Sidang Ahok Ke 21 - Nota Keberatan Setebal 20 Halaman Akan Dibacakan Ahok

Sidang Ahok Ke 21 - Nota Keberatan Setebal 20 Halaman Akan Dibacakan Ahok

Baca Juga

WARTABALI.NET - Sidang Ahok yang digelar hari ini merupakan sidang klimak dimana tuntutan JPU sudah kita dengarkan bahwa Ahok tidak menistakan agama, setelah 20 kali sidang akhirnya kata kata itulah yang kita dengarkan, dan terbukti sudah bahwa embel embel penistaan agama hanyalah sebuah ulah politik untuk turunkan Ahok dari Singasana dan kontestasi pilkada DKI, dan hal itu sudah terbukti, satu hari setelah pilkada Usai, tuntutan itu keluar, sebuah kebetulan atau memang rekayasa, yang jelas sidang Hari ini masih berlanjut dengan pledoi serta pembacaan Nota Keberatan Oleh terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, simak bagaimana agenda sidang Kali ini yang akan segera dimulai



Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menjalani sidang lanjutan dengan agenda pembacaan nota pembelaan (pledoi) hari ini. Ahok pun menyusun pledoi-nya sendiri.

"Kita sudah 4 hari mengkarantina tim hukum menyusun pledoi. Pledoi ada dua, ada yang dari pak BTP, dan pledoi dari kuasa hukum," ungkap kuasa hukum Ahok, Sirra Prayuna saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (25/4/2017).

Seperti pada sidang sebelumnya, sidang akan berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Sirra menyebut, pledoi yang disiapkan Ahok tidak lah banyak.

"Dari pak BTP nggak banyak. Kurang lebih 10-20 halaman. Dari kami lumayan, kalau dilihat dari seluruhnya karena termasuk dari saksi ada 3.000 lebih, tapi tidak dibacakan seluruhnya," ucapnya.

Nota pembelaan yang disiapkan oleh kuasa hukum dimulai dari pendahuluan, fakta persidangan, fakta yuridis, analisis fakta persidangan, analisis yuridis, petitum, hingga kesimpulan. Untuk poin-poin ini, setidaknya ada 200 halaman yang tidak semuanya dibacakan.
[ads-post]
"Kalau konten jangan, nanti nggak elok kalau belum dibacakan. Nggak seluruhnya dibacakan. Yang penting sidang bisa selesai jam 12.00 WIB," jelas Sirra.

Tim kuasa hukum pun yakin pembelaan yang akan disampaikan akan menguntungkan Ahok. Mengenai massa kontra Ahok yang disebut-sebut akan datang saat sidang, Sirra mengaku itu tidak akan mengganggu selama di dalam ruang sidang semua bisa kondusif.

"Itu hak berserikat dan berkumpul, silakan saja. Selama ini juga ada demo kan, yang penting dalam sidang berjalan lancar, dan kalau ganggu persidangan ada konsekuensinya, kalau di luar silakan saja," paparnya.
[ads-post]
Sirra pun mengingatkan agar tidak ada pihak-pihak yang berusaha mengganggu jalannya persidangan di dalam ruang sidang. Hakim disebutnya harus mengambil tindakan apabila hal tersebut terjadi.

"Tidak boleh ganggu lancarnya persidangan dengan teriakan, sorakan dan sebagainya. Hakim mutlak bisa ambil tindakan hukum kalau ganggu di dalam ruang persidangan," tegasnya.

Pihak Ahok juga mengaku tidak merasa tertekan dengan adanya demo-demo di luar persidangan. Sebab mereka percaya, majelis hakim tidak akan terpengaruh dengan intervensi apapun

"Nggak, Pak Ahok beliau fokus dengan pembelaannya dan fokus bekerja di sisa akhir masa jabatan. Tapi tetap konsultasi juga," tutur Sirra.

Ahok menyusun sendiri nota pembelaannya yang akan dia bacakan di persidangan hari ini. Alasan Ahok membuat nota pembelaannya sendiri agar lebih bisa mengungkapkan perasaannya terkait perkara penistaan agama. Lewat pledoi, Ahok juga dikatakan akan dapat meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus tersebut.

Dalam sidang sebelumnya, Ahok dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti menyampaikan perasaan kebencian di muka umum dan menyinggung golongan tertentu.

"Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama terbukti bersalah menyatakan perasaan kebencian," ujar ketua tim jaksa Ali Mukartono membacakan surat tuntutan dalam sidang lanjutan Ahok di Auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4).

Ahok dianggap jaksa terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat bertemu dengan warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Penyebutan Surat Al-Maidah ini, menurut jaksa, dikaitkan Ahok dengan Pilkada DKI Jakarta.[dtk]

Related Posts

Sidang Ahok Ke 21 - Nota Keberatan Setebal 20 Halaman Akan Dibacakan Ahok
4/ 5
Oleh