Aturan Baru Kementrian Agama, Pastikan Ceramah Agama SARA,Ujaran Kebencian, Penghasutan, Politik Dipidana, SEBARKAN

Aturan Baru Kementrian Agama, Pastikan Ceramah Agama SARA,Ujaran Kebencian, Penghasutan, Politik Dipidana, SEBARKAN

Baca Juga

WARTABALI.NET - Bukan rahasia lagi bila ceramah ceramah di tempat keagamaan telah disusupi oleh bumbu bumbu kebencian dan malahan banyak yang berisi ujaran kebencian, tidak disampaikan dengan santun, dan berisi hasutan, hal hal seperti inilah yang harus dimusnahkan dari bumi Indonesia, dan khususnya merupakan peran penting sosok menteri Agama dalam menerapkan regulasi yang melindungi dan mencegah efek efek masif dari peralihan fungsi Rumah Peribibadatan ini, adapun hasil dari peraturan baru tentang ceramah di tempat ibadah ini mencakup untuk semua penceramah dan siapapun itu, simak bagaimana aturan baru ini nanti dapat dikenakan pada sosok sosok atau oknum yang memberikan ceramah melangar aturan ini



Kementerian Agama mengeluarkan seruan mengenai ketentuan ceramah agama di rumah-rumah ibadah seluruh Indonesia.

Berikut isi seruan yang dibacakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (28/4/2017):

1. Disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.

2. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.

3. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.

4. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spriritual, intelektual, emosional dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasehat, motivasi dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
[ads-post]
5. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.

7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktik ibadah antar atau dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif.

8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis.

9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

Lukman mengatakan, seruan ini dibuat dalam rangka menjaga rasa persatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa, merawat kerukunan antar-umat beragama, dan memelihara kesucian rumah ibadah.

"Kehidupan masyarakat harus stabil, damai harus terwujud dan kerukunan umat beragama adalah persyaratan keberlangsungan hidup bersama dan keberlangsungan pembangunan menuju Indonesia yangs sejahtera dan bermartabat. Dalam pemenuhan prasyarat yang dimaksud, penceramah agama dan rumah ibadah memegang peranan sangat penting," ujar Lukman.[kmp]

Baca - Anies Baswedan Ingin Ahok-Djarot Yang Selesaikan Persiapan Asian Games, Biar Dia Ngak Disalahkan 

Related Posts

Aturan Baru Kementrian Agama, Pastikan Ceramah Agama SARA,Ujaran Kebencian, Penghasutan, Politik Dipidana, SEBARKAN
4/ 5
Oleh